Rotary Club of Semarang Bimasena Gelar Nonton Bareng Layar Gaharu “Simalakama di Tanah Istimewa”


Sesi diskusi usai nobar film dokumenter “Simalakama di Tanah Istimewa”, 29 Agustus 2025. (FOTO: Public Image).
INSIGHTS, SEMARANG – Program Layar Gaharu yang digagas Ashoka berkolaborasi dengan EduHouse dan Rotary Club of Semarang Bimasena menghadirkan film dokumenter “Simalakama di Tanah Istimewa” pada Jumat 29 Agustus 2025, di Multifunction Hall, PKBM EduHouse.
Film ini mengangkat realita diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa di Yogyakarta, yang hingga kini hanya dapat memiliki hak guna bangunan (HGB) dan tidak bisa memperoleh hak milik (HM) atas tanah.
Usai pemutaran film, diskusi digelar bersama para narasumber. Yvonne Sibuea, peneliti pluralisme dari EIN Institute, menekankan pentingnya keadilan dalam keberagaman. Linggayani Soentoro, President of RCS Bimasena, berbicara mengenai perasaan dan perspektif minoritas, sementara Yokko Hartanto, Ketua Yayasan Graha Edunesia, mengajak audiens merefleksikan sejauh mana kewajaran rasa curiga boleh hadir dalam interaksi sosial.
Pertanyaan reflektif pun muncul dari forum ini:
✅ Bagaimana kita melihat “yang lain”?
✅ Apa artinya hidup berdampingan dalam keberagaman?
✅ Bagaimana menyikapi kesenjangan, baik etnis, agama, maupun jabatan?
Melalui pemutaran film dan ruang dialog ini, Rotary Club of Semarang Bimasena bersama mitra kolaborasi ingin menegaskan kembali tujuan utamanya: membangun perdamaian dan mencegah konflik, agar keberagaman tidak menjadi pemisah melainkan pengikat.





