Informasi Terkini

Langkah Kecil di Sudut Tallo Makassar, DG Dyah Anggraeni Berikan Bantuan ke Keluarga Pra Sejahtera

Dyah Anggraeni

INSIGHT, MAKASSAR – Pagi itu, Selasa (15/7/2025), Makassar menyambut saya dan DDG Malik beserta rombongan dengan cuaca cukup panas khas pesisir. Kami melangkah menyusuri sudut Kecamatan Tallo, tepatnya di Kelurahan Suangga, menuju sebuah gang sempit di Jalan Sunu. Di balik deret bangunan dengan aroma rongsokan yang tak nyaman, kami tiba di sebuah rumah yang nyaris tak layak disebut hunian.

Bangunan itu terdiri dari dua lantai. Di lantai atas terbuat dari papan tua yang tampak rapuh, sementara lantai bawah dipenuhi tumpukan botol plastik, gelas bekas, dan barang-barang sisa kota yang telah dibuang. Di sanalah Ibu Daeng Bau Kananga tinggal bersama lima anaknya, sang kakek, dan nenek yang menderita lumpuh.

Anak sulung, yang seharusnya sedang menimba ilmu, memilih membantu sang kakek memulung barang bekas. Anak kedua, yang berusia setingkat SMP, tak bersekolah. Dua anak lainnya usia SD juga putus sekolah. Dan yang paling kecil, bayi mungil berusia satu tahun, tampak lemah dan kurus karena stunting.

Dyah Anggraeni

DG Dyah Anggraeni bersama DDG Malik, Rotarian dan Dinas Sosial Kota Makassar usai menyerahkan bantuan kepada keluarga miskin, Makassar 15/7/2025. (FOTO: Public Image)

Kunjungan kami pagi itu bukan sekadar seremonial. Rotary Club Ujung Pandang, bersama Dinas Sosial Kota Makassar yang dipimpin oleh DDG Malik yang juga seorang Rotarian, datang membawa sembako, telur, dan susu, bantuan sederhana yang kami harap mampu meringankan sedikit beban mereka.

Tapi lebih dari itu, kami datang membawa perhatian. Karena kami percaya, perhatian adalah bentuk cinta yang paling jujur. Di bulan Maternal and Child Health ini, keluarga Ibu Daeng mengingatkan kita semua bahwa perjuangan ibu dan anak tak akan pernah berhenti begitu saja.

Langkah selanjutnya sudah kami siapkan. Bersama jejaring Rotary, anak-anak Ibu Daeng yang masih usia sekolah akan kami daftarkan ke Sekolah Rakyat. Karena mereka punya hak untuk belajar, untuk berharap, dan untuk mengubah nasibnya sendiri.

Saya meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk, sedih, marah, namun juga penuh harapan. 

Kami para Rotarian mencoba menjadi manusia yang hadir di saat yang tepat, dengan niat yang tulus. Karena sesungguhnya, kemanusiaan bukan tentang seberapa besar bantuan yang kita beri, tapi seberapa dalam kita mau melihat, mendengar, dan merasakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *