Melangkah Bersama di Napu: Menangkal Schistosomiasis dari Hulu

INSIGHTS, POSO – 18 Juli 2025 menjadi salah satu perjalanan penuh makna dalam upaya pemberantasan penyakit tropis terabaikan, Schistosomiasis, di wilayah Sulawesi Tengah.
Dari Kota Palu, saya bersama tim Rotary dan sahabat-sahabat dari RC Kyoto, Jepang, menempuh perjalanan darat sekitar dua jam menuju lembah Napu yang sejuk dan tenang, namun menyimpan tantangan kesehatan yang nyata bagi masyarakatnya.

Melangkah Bersama di Napu Menangkal Schistosomiasis dari Hulu
Setibanya di Napu, kami langsung mengunjungi Laboratorium Schistosomiasis, fasilitas penting yang menjadi garda depan dalam deteksi dini penyakit akibat infeksi cacing darah ini. Laboratorium ini bukan hanya ruang uji, tetapi juga simbol harapan bagi warga yang ingin hidup lebih sehat dan bebas dari ancaman infeksi yang ditularkan melalui air ini.
Agenda utama hari itu adalah pertemuan formal di Balai Desa Kaduaa. Suasana begitu hangat dan bersahaja, dihadiri oleh Wakil Bupati Poso Bapak H. Soeharto Kandar, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Poso, para kepala desa, dan tokoh masyarakat setempat. Sebuah momen bersejarah terjadi di sana: Rotary Club Kyoto meresmikan proyek irigasi melalui pengguntingan pita di prasasti simbolis, sebagai pertanda dimulainya langkah nyata pemberantasan Schistosomiasis di Napu.
Kami pun melanjutkan kebersamaan dalam sesi fellowship yang sederhana tapi penuh kekeluargaan. Makan siang bersama, berbagi cerita lintas budaya, dan menyatukan semangat demi tujuan yang sama membangun sistem pencegahan penyakit dari hulu.

Melangkah Bersama di Napu Menangkal Schistosomiasis dari Hulu
Perjalanan berlanjut ke Desa Maholo, desa kedua yang menjadi lokasi proyek. Di sini kami menyaksikan langsung pembangunan irigasi panjang yang kelak akan mengalirkan air bersih, sekaligus menjadi langkah preventif terhadap penyebaran larva cacing penyebab penyakit. Progres pembangunan berjalan baik dan kami optimis irigasi ini akan segera tuntas dan membawa dampak besar bagi kehidupan warga.
Menjelang sore, setelah seluruh kegiatan berjalan lancar dan penuh makna, kami kembali ke Palu. Sepanjang perjalanan pulang, saya berpikir betapa kolaborasi lintas negara dan kepedulian terhadap sesama bisa menjadi jalan pembuka bagi perubahan yang berkelanjutan.