DG Visit to Kudus: Menyatukan Lingkungan dan Kesehatan


DG Dyah Anggraeni bersama Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri di fasilitas Sampoerna Foundation, yang tengah mengembangkan program pengolahan limbah organik menjadi pupuk, 9 Oktober 2025. (FOTO: Public Image).
INSIGHTS, KUDUS – Kunjungan saya ke Kudus hari ini meninggalkan kesan mendalam. Di kota yang dikenal kaya akan nilai budaya dan semangat gotong royong ini, saya menyaksikan bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan dijalankan bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam aksi nyata. Rotary hadir di tengah masyarakat, bersinergi dengan berbagai pihak, untuk membawa perubahan yang berkelanjutan.
Pagi hari, Kamis 9 Oktober 2025, ditemani Wakil Bupati Kudus Ibu Bellinda Putri dan rekan-rekan Rotary, saya memulai kunjungan di Sampoerna Foundation, yang tengah mengembangkan program pengolahan limbah organik menjadi pupuk. Sebuah langkah sederhana namun penuh makna, mengubah sesuatu yang dianggap sisa menjadi sumber kehidupan baru. Saya melihat bagaimana alat-alat pengolahan bekerja dengan efektif, mengurangi volume sampah rumah tangga yang berakhir di TPA, sekaligus membuka peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat sekitar.
Perjalanan berlanjut ke Desa Jati, Kecamatan Jati, tempat teknologi steam burning (insinerator) digunakan untuk mengolah sampah residu yang sulit diurai. Teknologi ini mampu memproses hingga 6,5 ton sampah per hari tanpa bahan bakar tambahan bukti nyata bahwa inovasi lokal bisa berjalan beriringan dengan kepedulian lingkungan. Kudus patut berbangga, karena inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya milik kota besar, tapi bisa tumbuh dari desa-desa yang visioner.

DG Dyah saat mengunjungi Desa Jati, Kecamatan Jati, tempat teknologi steam burning (insinerator) digunakan untuk mengolah sampah residu yang sulit diurai, 9 Oktober 2025. (FOTO: Public Image).
Siang menjelang sore, saya bersama tim Rotary meninjau Puskesmas Rejosari, pusat kegiatan pencegahan stunting yang dijalankan bersama RC of Kudus dan RC of Kudus Srikandi. Dalam kesempatan tersebut kami berdiskusi tentang pentingnya sinergi antara pemerintah dan Rotary untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas. Program ini menunjukkan hasil yang menggembirakan, dan saya percaya Rejosari bisa menjadi model untuk daerah lain di Distrik 3420.
Malam harinya, kami berkumpul dalam suasana hangat di Hotel @Home Kudus bersama rekan-rekan RC Kudus dan RC Kudus Srikandi. Diskusi malam itu mengalir penuh semangat, membahas rencana proyek ke depan mulai dari pengadaan mobil IVA Test melalui Global Grant untuk deteksi dini kanker serviks, pengolahan sampah berkelanjutan, hingga gerakan “Genting: Pencegahan Stunting” yang menekankan edukasi gizi bagi ibu hamil dan masyarakat. Turut hadir PDG Mufid Wahyudi, PDG Cindy Bachtiar, dan DDG Hesty Utami—dukungan dan pandangan mereka memperkaya arah strategis Rotary di Kudus.
Di kota ini, kita belajar bahwa isu lingkungan dan kesehatan saling terhubung. Bahwa udara bersih, pangan bergizi, dan generasi sehat adalah satu kesatuan. Rotary menunjukkan perannya sebagai mitra strategis bagi pemerintah dan masyarakat, menghadirkan solusi yang konkret dan berkelanjutan.
Saya pulang dari Kudus dengan rasa syukur dan harapan besar. Syukur karena melihat bagaimana semangat “Service Above Self” hidup di setiap sudut kota ini. Harapan karena saya percaya, dari kolaborasi seperti inilah masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berdaya akan terwujud. Kudus telah memberi contoh, dan kini saatnya seluruh wilayah di Distrik 3420 melanjutkan langkah yang sama, membangun keberlanjutan melalui inovasi dan kolaborasi.